Satu dari Tiap 10 Pengguna Internet Jadi Korban Penipuan



Jika Anda pengguna aktif internet, berhati-hatilah! Karena semakin bervariasinya penggunaan internet ternyata juga terdapat celah terjadinya penipuan dan makin lama pengguna internet yang menjadi korban juga semakin meningkat. Hal ini dibuktikan dengan adanya temuan kalau satu dari setiap 10 pengguna internet menjadi korban penipuan online pada tahun lalu dan rata-rata setiap orang tertipu 875 poundsterling, menurut sebuah survei.

Hal ini disebabkan karena banyak yang tidak melakukan langkah-langkah dasar untuk melindungi diri saat online. Bahkan kurang dari setengah petanggap yang benar-benar merasa harus bertanggungjawab secara keseluruhan atas keamanan mereka selama menggunakan internet.

Dari berbagai penipuan yang terjadi di antaranya, 6% dialami saat berbelanja online, 4% mengalami penipuan umum dan 3% menjadi korban kejahatan terhadap perbankan atau kartu kredit.

Survei terhadap 2.400 orang itu dilakukan "YouGov for Get Safe Online", kelompok bentukan pemerintah, polisi dan perusahaan swasta untuk mengampanyekan keamanan saat menggunakan internet.

Hampir setengah dari petanggap mengatakan tidak punya perlindungan terhadap spyware yang merupakan piranti lunak komputer yang secara diam-diam mengumpulkan data pribadi seseorang saat dia menggunakan internet.

Seperlima petanggap mengatakan malah mengirim balasan dari pesan spam yang seharusnya sangat berbahaya dan 10% petanggap terjerumus juga mengklik link internet yang terdapat di email spam.

Hampir seperempat petanggap mengatakan semua password mereka sama, sedangkan 5% menggunakan password yang sama untuk setiap situs internet yang mereka buka.

Tony Neate, direktur Get Safe Online, mengemukakan, semua orang harus lebih banyak bertindak untuk mencegah penipuan.

"Jika kita memberi perhatian lebih besar untuk melindungi data online pribadi, kita dapat mengurangi sebagian besar kejahatan ini," katanya.

"Pesan kami adalah setiap orang harus lebih meningkatkan tanggungjawab pribadi untuk keamanan online kita," katanya.

Menurut survei itu juga hampir setengah petanggap merasa bertanggung jawab atas keamanan online mereka. Setiap satu dari enam pengguna berpendapat adalah tanggung jawab bank untuk melindungi data mereka dan 13% mengemukakan penyedia layanan internet juga harus ikut bertanggung jawab.

Hal ini juga membuat lebih dari tiga perempat di antaranya berpendapat, harus ada pelajaran di sekolah untuk membantu anak-anak agar tetap aman selama berinternet.


Sumber: www.antara.co.id/

No comments: